Politik

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Megapolitan

Peristiwa

Olahraga

Daerah

Galeri

Opini

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Otomotif

Indeks

Rupiah Termasuk 10 Mata Uang Terlemah Di Hadapan Dollar AS

Tim Redaksi
Kamis, 03 April 2025 | 20:10 WIB
Ilustrasi Mata uang rupiah dan dollar AS
Ilustrasi Mata uang rupiah dan dollar AS

IDISNEWS.COM - Dalam dinamika ekonomi global yang terus berubah, stabilitas mata uang menjadi indikator utama kekuatan finansial suatu negara. Tahun 2025 menunjukkan kesenjangan yang semakin mencolok antara mata uang kuat dan lemah, dengan beberapa negara menghadapi depresiasi signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

 

Indonesia, melalui rupiahnya, masuk dalam daftar 10 mata uang terlemah di dunia.

 

Penyebab Melemahnya Rupiah

 

Melemahnya rupiah terhadap dolar AS disebabkan oleh berbagai faktor ekonomi dan struktural.

 

Salah satu penyebab utama adalah ketergantungan Indonesia pada impor barang dan bahan baku, termasuk energi seperti minyak mentah. Ketika harga komoditas energi global naik, permintaan terhadap dolar meningkat, menyebabkan tekanan pada nilai tukar rupiah.

 

Selain itu, defisit transaksi berjalan yang sering dialami Indonesia juga menjadi faktor utama. Defisit ini terjadi ketika jumlah dolar yang keluar untuk membayar impor lebih besar dibandingkan jumlah dolar yang masuk dari ekspor.

 

Ketidakseimbangan ini melemahkan fundamental nilai tukar rupiah.

 

Rupiah dalam Daftar 10 Mata Uang Terlemah

 

Berdasarkan laporan Refinitiv, berikut adalah 10 mata uang yang paling terdepresiasi terhadap dolar AS:

 

1. Lebanese Pound (LBP)-Melemah akibat krisis perbankan, inflasi tinggi, dan ketidakstabilan politik.

 

2. Iranian Rial (IRR) - Tertekan sejak kegagalan kesepakatan nuklir dan sanksi ekonomi berat.

 

3. Vietnamese Dong (VND) - Terpengaruh pembatasan ekspor dan devaluasi yang dilakukan Bank Sentral Vietnam.

 

4. Laotian Kip (LAK) - Melemah karena inflasi tinggi dan peningkatan utang luar negeri.

 

5. Sierra Leonean Leone (SLL) - Dipengaruhi oleh tingkat utang dan inflasi yang tinggi serta pertumbuhan ekonomi yang lambat.

 

6. Indonesian Rupiah (IDR) - Tertekan oleh defisit transaksi berjalan dan ketergantungan pada impor.

 

7. Uzbekistan Som (UZS) - Mengalami tekanan akibat inflasi tinggi dan tingkat pengangguran yang besar.

 

8. Guinean Franc (GNF) - Terdepresiasi setelah konflik politik dan ekonomi yang berkepanjangan.

 

9. Paraguayan Guarani (PYG) - Menghadapi tekanan inflasi dan tingkat pengangguran yang tinggi.

 

10. Syrian Pound (SYP) - Sangat terdevaluasi akibat perang saudara dan sanksi ekonomi internasional.

 

Dampak dan Tantangan ke Depan

 

Depresiasi rupiah membawa dampak signifikan bagi perekonomian Indonesia, termasuk meningkatnya harga barang impor dan berkurangnya daya beli masyarakat. Pemerintah dan Bank Indonesia perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas mata uang, seperti meningkatkan cadangan devisa, mengendalikan inflasi, serta memperkuat sektor ekspor agar neraca perdagangan lebih seimbang.

 

Kondisi ini menunjukkan bahwa nilai tukar mata uang bukan hanya refleksi dari faktor ekonomi domestik, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika global. Oleh karena itu, kebijakan ekonomi yang adaptif dan stabilitas politik menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan rupiah di tengah tantangan ekonomi global.

 

Saya telah menyusun berita berdasarkan teks yang Anda berikan dengan sistematika yang lebih segar dan menghindari plagiarisme. Jika ada bagian yang perlu disesuaikan, silakan beri tahu!

Komentar: